Analasis Publik "Nike Dikecam Gara-gara Kasih Upah Rendah ke Buruh RI"
Nike, Inc. adalah salah satu perusahaan sepatu, pakaian dan alat-alat olahraga Amerika Serikat yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Mereka terkenal karena mensponsori beberapa olahragawan terkenal di dunia seperti Tiger Woods, Ronaldo, Courtois, Hazard, Ronaldinho dan Wayne Rooney. Selain itu mereka juga memiliki perjanjian dengan berbagai tim sepak bola dunia seperti F.C. Barcelona,Sevilla FC, F.C. Basel, Manchester City, Chelsea, Tottenham Hotspur, AC Sparta Praha, Red Star Belgrade, Inter Milan, VfL Bochum, VfL Wolfsburg, Hertha BSC Berlin, PSV Eindhoven, Valencia C.F.,Borneo C.F., Urawa Red Diamonds, Kaizer Chiefs, Atlético de Madrid, NK Maribor, Glasgow Celtic, FC Porto, Paris Saint-Germain, Boca Juniors, dan Corinthians.
Kamis (10/4/2014), lembaga anti kemiskinan global SumOfUs mengirimkan petisi pada perusahaan raksasa tersebut karena telah mengeksploitasi para buruh pabriknya. Nike dikecam karena menjual kaos tim olahraga Inggris seharga US$ 150 atau Rp 1,7 juta, tapi hanya menggaji buruh pabrik di Indonesia dengan bayaran 50 cent atau Rp 5.600 per jam untuk memproduksi kaos tersebut.
"Tim Inggris dan para fans-nya, sebaiknya tidak ikut terlibat dalam eksploitasi buruh di Indonesia dengan ikut membeli kaos mahal tersebut," ungkap para penggiat SumOfUs seperti tertulis dalam keterangannya.
Lembaga tersebut mengungkapkan, membeli kaos itu berarti ikut mendukung praktik ketidakadilan pada para buruh. Tak hanya itu, keuntungan Nike yang super besar juga menjadi isu yang diangkat dalam memperjuangkan hak buruh pabrik di Indonesia.
Level Publik Sasaran
1. Latent Public, publik yang tidak menyadari keterkaitan mereka dengan pihak lain terhadap suatu isu atau situasi yang terjadi.
Latent Public dari kasus ini adalah masyarakat non-konsumen atau masyarakat kelas bawah karena mereka tidak memiliki hubungan dengan pihak perusahaan.
2. Awareness Public, publik yang mengetahui bahwa mereka dipengaruhi atau terlibat dengan situasi yang dialami oleh pihak lain namun mereka tidak saling mengkomunikasikannya.
Awareness Public dari kasus ini adalah Buruh pabrik
3. Active Public, publik yang mulai mengkomunikasikan dan membentuk organisasi untuk merespon isu yang terjadi kemudian mengkomunikasikannya melalui berbagai media.
Active Public dari kasus ini adalah Lembaga Anti Kemiskinan Global (SumOfUS), Lembaga ini yang pertama kali bergerak memprotes perusahaan dengan mengirim petisi karena melihat ada kejanggalan.
Tipe Publik
1. All Issue Publics, publik yang bersikap aktif dalam berbagai isu. Diperlukan ketersediaan informasi yang cukup untuk dapat terlibat terhadap beragam isu yang muncul.
All Issue Publics pada kasus ini adalah Petinggi perusahaan NIKE cabang Indonesia.
2. Aphatetic Publics, publik yang tidak memperhatikan atau tidak aktif terhadap semua isu.
Aphatetic Publics pada kasus ini adalah Pelanggan kompetitor seperti pelanggan Adidas
3. Single Issue Publics, publik yang aktif pada satu atau sejumlah isu.
Single Issue Publics pada kasus ini adalah investor
4. Hot Issue Publics, publik yang baru aktif setelah semua media memberitakan dan isu tersebut telah menjadi topik sosial yang diperbincangkan secara luas.
Hot Issue Publics pada kasus ini adalah Komunitas pengguna Adidas.
Nama : Bagus Bima Putra
NPM : 0441 16 372
Kelas : Humas 3
Kamis (10/4/2014), lembaga anti kemiskinan global SumOfUs mengirimkan petisi pada perusahaan raksasa tersebut karena telah mengeksploitasi para buruh pabriknya. Nike dikecam karena menjual kaos tim olahraga Inggris seharga US$ 150 atau Rp 1,7 juta, tapi hanya menggaji buruh pabrik di Indonesia dengan bayaran 50 cent atau Rp 5.600 per jam untuk memproduksi kaos tersebut.
"Tim Inggris dan para fans-nya, sebaiknya tidak ikut terlibat dalam eksploitasi buruh di Indonesia dengan ikut membeli kaos mahal tersebut," ungkap para penggiat SumOfUs seperti tertulis dalam keterangannya.
Lembaga tersebut mengungkapkan, membeli kaos itu berarti ikut mendukung praktik ketidakadilan pada para buruh. Tak hanya itu, keuntungan Nike yang super besar juga menjadi isu yang diangkat dalam memperjuangkan hak buruh pabrik di Indonesia.
Level Publik Sasaran
1. Latent Public, publik yang tidak menyadari keterkaitan mereka dengan pihak lain terhadap suatu isu atau situasi yang terjadi.
Latent Public dari kasus ini adalah masyarakat non-konsumen atau masyarakat kelas bawah karena mereka tidak memiliki hubungan dengan pihak perusahaan.
2. Awareness Public, publik yang mengetahui bahwa mereka dipengaruhi atau terlibat dengan situasi yang dialami oleh pihak lain namun mereka tidak saling mengkomunikasikannya.
Awareness Public dari kasus ini adalah Buruh pabrik
3. Active Public, publik yang mulai mengkomunikasikan dan membentuk organisasi untuk merespon isu yang terjadi kemudian mengkomunikasikannya melalui berbagai media.
Active Public dari kasus ini adalah Lembaga Anti Kemiskinan Global (SumOfUS), Lembaga ini yang pertama kali bergerak memprotes perusahaan dengan mengirim petisi karena melihat ada kejanggalan.
Tipe Publik
1. All Issue Publics, publik yang bersikap aktif dalam berbagai isu. Diperlukan ketersediaan informasi yang cukup untuk dapat terlibat terhadap beragam isu yang muncul.
All Issue Publics pada kasus ini adalah Petinggi perusahaan NIKE cabang Indonesia.
2. Aphatetic Publics, publik yang tidak memperhatikan atau tidak aktif terhadap semua isu.
Aphatetic Publics pada kasus ini adalah Pelanggan kompetitor seperti pelanggan Adidas
3. Single Issue Publics, publik yang aktif pada satu atau sejumlah isu.
Single Issue Publics pada kasus ini adalah investor
4. Hot Issue Publics, publik yang baru aktif setelah semua media memberitakan dan isu tersebut telah menjadi topik sosial yang diperbincangkan secara luas.
Hot Issue Publics pada kasus ini adalah Komunitas pengguna Adidas.
Nama : Bagus Bima Putra
NPM : 0441 16 372
Kelas : Humas 3
Komentar
Posting Komentar