Mengenal Publik dari Kasus Makarel Mengadung Cacing Parasit
Bukan hal mudah bagi perusahaan untuk mengatasi
permasalahan yang kerap kali terjadi secara tiba-tiba dan disorot oleh media.
Tentu saja, perusahaan harus menentukan respon yang tepat agar masalah tidak
berkembang lebih lanjut dengan cara membuat perencanaan komunikasi. Perencanaan
pesan-pesan komunikasi merupakan suatu langkah strategis bagi pencapaian tujuan
suatu organisasi secara menyeluruh, dan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
komunikasi (Purwanto, 2006:69). Untuk melakukan perencanaan komunikasi,
perusahaan perlu untuk menganalisis siapa saja publiknya agar kegiatan
komunikasi bisa lebih terarah.
Pemberitaan makarel kemasan kaleng yang mengandung
cacing parasit menimbulkan kecemasan di masyarakat, karena makarel termasuk
makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Dilansir dari laman tirto.id, bahwa Indonesia sudah cukup
banyak mengimpor makarel. Terbukti pada 2016, nilainya 48,5 juta dolar. Pada
2017, pertumbuhannya mencapai 93,46 persen menjadi 93,83 juta dolar. Serta
sekitar 65,08 persen ikan makarel diimpor dari Tiongkok. Berkat pemberitaan
tersebut, penting bagi PT Heinz ABC Indonesia untuk menganalis publiknya,
seperti di bawah ini:
1.
Latent Public
“A latent public shares an issue with the
organization but does not yet recognize this situation or its potential. You
might call it an embryonic public, because it has potential but as yet no
self-awareness.” (Smith, 2011). Berdasarkan definisi tersebut, maka yang
menjadi latent public dari kasus ini
adalah masyarakat non-konsumen makarel atau vegetarian. Mereka mengetahui isu
cacing parasit, tetapi tidak menaruh perhatian disebabkan oleh tidak adanya
kepentingan pribadi.
2.
Awareness Public
“An aware public recognizes that it shares an
issue and perceives the consequences as being relevant, but it is not organized
to discuss and act on the issue.” (Smith, 2011). Berdasarkan definisi
tersebut, maka yang menjadi awareness
public dari kasus ini adalah konsumen, pelanggan, serta Gabungan Pengusaha
Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI).
Konsumen
dan pelanggan merasa khawatir dengan kehigienisan produk makanan yang berdampak
pada berkurangnya kepercayaan pada merek ABC. Sedangkan bagi GAPMII,
pemberitaan tersebut dapat mempengaruhi pandangan dan kepercayaan masyarakat
terhadap produk makanan kaleng yang berdampak pada aktivitas penjualan.
3.
Active Public
“In the final stage of its development, an
active public has reached the fullness of what we identify as a public. It is
discussing and acting on the shared issue.” (Smith, 2011). Berdasarkan
definisi tersebut, maka yang menjadi active
public dari kasus ini adalah institusi yang melakukan fungsi pengawasan
terhadap aktivitas produksi, seperti badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ,
Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Kementerian Perindustrian. Dilansir
dari laman www.cnnindonesia.com,
bahwa ketiga institusi tersebut melakukan audit komprehensif ke sarana produksi
dalam negeri yang memproduksi ikan kaleng makarel. BPOM juga aktif mengawasi
peredaran produk terkontaminasi dan memberikan instruksi penarikan produk (product recall) di pasaran.
4.
All Issue Public
Pihak yang menjadi
all issue public dalam kasus ini
adalah top management PT Heinz ABC
Indonesia. Mereka berperan untuk mengorganisir kegiatan, mengolah sumber daya
organisasi, dan berinteraksi dengan lingkungan eksternal. Oleh karena itu,
mereka adalah pihak yang responsif terhadap isu apapun mengenai perusahaan.
5.
Apathetic Public.
“A
public that faces an issue, knows it and simply doesn’t care is an apathetic
public. To this public, the issue is
not important enough to warrant its attention and the consequences are not
perceived as being important.” (Smith, 2011). Berdasarkan definisi
tersebut, maka yang menjadi apathetic
public dari kasus ini adalah masyarakat non-konsumen makarel atau
vegetarian. Mereka mengetahui isu cacing parasit, tetapi tidak menaruh
perhatian disebabkan oleh tidak adanya kepentingan pribadi.
6.
Single issue public dalam kasus ini adalah konsumen dan
pelanggan. Biasanya mereka hanya berkonsentrasi pada isu-isu tertentu, seperti
kenaikan harga.
7.
Hot issue public dalam kasus ini adalah investor. Pemberitaan viral
yang berkaitan dengan PT Heinz ABC Indonesia akan mempengaruhi harga saham
perusahaan, baik itu meroket ataupun anjlok.
Sumber :
E-book
Purwanto, Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis Edisi 3. Jakarta:
Penerbit Erlangga
Smith, Ronald. 2011. Strategic Planning For Public Relations
Second Edition. New Jersey: Lawrence Erlbarum Associates, Inc
Web
Nama : Resqia Indah Atsila
NPM : 0441 16 217
Kelas : Humas 3

Komentar
Posting Komentar